Makin cinta setelah menikah

Pernikahan saya sudah memasuki usia 8 bulan dan kini saya sedang mengandung 21 minggu atau kurang lebih 5 bulan. Banyak hal yang terjadi selama itu. Sudah lama rasanya engga posting atau menulis disini. Maklum semenjak menikah banyak hal yang diselesaikan. Mulai dari urusan perut suami, pakaian yang harus dicuci dan digosok, ditambah lagi perut yang semakin buncit membuat saya juga sulit bergerak.

Setelah menikah rasanya hidup saya menjadi ansos atau anti sosial, entah kenapa saya merasakan cuma suami saya yang bisa saya ajak bicara. Komunikasi dengan teman-teman rasanya sekarang semakin sulit, cuma sekedar sapa dan tawa lewat media elektronik yang sekarang semakin canggih. Jalan-jalan atau hangout duduk bersantai seperti jaman masih gadis dulu sudah hampir gak pernah saya lakukan lagi, kecuali dengan suami atau adik dan kakak. Terkadang rindu masa-masa itu, tapi dilain sisi saya lebih senang menghabiskan waktu dengan keluarga. Seminggu bekerja memang letih, tapi dihari weekend menyempatkan diri bertemu atau sekedar mengobrol dengan kakak dan orang tua adalah seperti hiburan yang bisa melunturkan kelelahan saya. Banyak teman-teman yang ngajak kumpul, tapi kok rasanya lebih asik bareng keluarga sendiri y. Maklum kumpul dengan keluarga juga cuma bisa diakhir minggu saja. Makannya hampir selama menikah saya belum bertatap muka lagi dengan teman-teman saya dulu.

Setiap hari bertemu suami hampir tidak ada kata bosan, saya selalu merasa seperti jatuh cinta lagi dengan orang yang sama setiap harinya. Selalu ada hal yang baru yang ingin kami kerjakan, kami rencanakan, dan hal itu terjadi dalam kesederhanaan dirumah kami yang mungil. Si Mungil itu istilah rumah kecil kami. Hanya ada 3 ruang disana, 1 kamar, 1 dapur, dan 1 ruang serbaguna. Banyak hal baru yang ingin kami bangun disana dengan kemampuan dan keterbatasan yang kami miliki. Sederhana adalah awal untuk bahagia, bohong rasanya bila kami tidak ingin lebih. Saya dan suami ingin yang terbaik untuk buah hati kami, maka kami akan berusaha terus menjadi lebih baik.

Suami saya saat ini ibarat partner hidup, teman, belahan jiwa, dan rasanya sulit mengibaratkannya lebih banyak karena memang “dia” adalah anugerah saya yang kedua setelah orang tua saya. Saya memilihnya lewat izin Alloh SWT, dan menerimanya apaadanya. Saya bersyukur bisa menikah dengan seorang pria berwirausaha, karena kami bisa punya banyak waktu lebih dibandingkan pasangan yang keduanya kerja dikantor. Berangkat dipagi yang masih gelap, bisa jadi pulang dari kantorpun sudah dalam keadaan gelap. Sedangkan kami selalu bareng dalam setiap kesempatan, selalu ada waktu untuk menonton tv, atau bersenda gurau menghabiskan sisa hari. Alhamdulillah 🙂

Kembali kepada kehidupan sosial saya. Saya memang cenderung orang yang malas keluar rumah kecuali memang diperlukan. Hal itu sudah terjadi dari saya kecil. Bukan ingin anti sosial, tapi saya agak malas untuk berbasa-basi dengan seseorang. Suami saya selalu bilang untuk mengenal tetangga, bukan gak mau kenalan tapi ketika diperlukan keluar rumah yah saya tetap menyapa tetangga dan ngobrol sekedarnya. Hanya kalo disengaja keluar rumah dan ngobrol-ngobrol rasanya itu hal yang ganjal buat saya. Entah apa yang mau dibicarakan dan yakin banyak waktu yang terbuang nantinya. Maklum ibu-ibu dengan waktu padat harus membagi waktu masak, menyetrika, beres2 rumah Hehehehe. Saya orang cenderung cuek apa kata orang, terserah apa yang mereka pikirkan tentang saya. Tapi saya akan tetap menjadi saya apaadanya. Tapi ya saya pasti akan mengenal orang-orang yang ada disekitar saya, bagaimanapun kalo saya lagi ada kebutuhan dsb maka merekalah orang pertama yang saya hubungin toh, begitu pula sebaliknya 😀

Sebenarnya ini ngomongin apa y, jadi banyak banget yang diungkapin. Intinya saya menikmati pernikahan saya selama 8 bulan ini, saya juga menikmati kehamilan saya, dan saya menyayangi suami dan calon anak kami. Semoga Alloh SWT selalu menjadi keluarga kecil kami dalam rahmat dan berkah-Nya. aamiiin

Road to The Next Level

Hidup itu bisa diibaratkan seperti bermain game, perlu strategi untuk menghadapi setiap levelnya. Dan disetiap level kita akan menemukan kesulitan yang pastinya berbeda-beda. Sama seperti kehidupan kita, dari kecil hingga saat ini menghirup nafas. Sudah berapa level kehidupan yang kita lewati? sudah berapa tantangan yang bisa hadapi? dan sudah berapa score yang dihasilkan?. Jawabannya ada pada diri kita, hati kita, fikiran kita, bahkan financial yang kita miliki.

Di usia saya saat ini, sudah banyak sekali kawan-kawan saya yang menikah dan bahkan sudah memiliki anak. Bahagia sekali melihat mereka saat memposting kebersamaan bersama keluarga masing-masing. Keputusan nikah muda yang teman-teman saya pilih adalah bukan perkara mudah. Tapi kalo pendapat teman-teman saya setiap di tanya ” gimana sih rasanya menikah ? “, mereka akan jawab “menyesal…. menyesal kenapa gak dari dulu cepat menikah”, hahaha.. siapapun pasti bahagia bila sudah menikah. Adapun yang masih menyesal setelah menikah, maka ada sesuatu yang harus dipertanyakan.

Menikah muda itu keputusan yang sulit, tapi menurut saya itu baik. Maaf loh bukan sok tau, tapi saya juga menikah diusia muda. Tapi kalau di fikir-fikir menikah muda itu banyak sekali kelebihannya.

  • Menghindari dari zinah dan nafsu
  • Hemat ongkos , lebih baik jajan sama orang yg sudah jelas jadi suami/istri kan
  • Ada teman untuk berbagi, karena sejatinya seseorang butuh pendamping untuk bertukar fikiran.
  • Fokus pada akhir. Apa lagi yang musti dipusingkan, sudah ada istri, anak, org tua, maka tinggal ibadah dan mencari rezeki untuk orang2 yang disayangi.

Usia pernikahan saya mungkin baru seumur jagung, entah berapa gerangan si jagung tersebut. Yang jelas pernikahan kami baru berumur 8 bulan. Saya menikah bulan April 2014, dan kini tengah mengandung usia 5 bulan. Selama itu pula banyak hal yang kami pelajari, mengenai penyesuaian, financial, tempat tinggal dan sebagainya. Hidup tidak selamanya indah, tapi kita harus bisa memutuskan kemana arah hidup kita ditempatkan. Untuk teman-teman yang galau untuk nikah muda, saya sarankan istikhorohlah dan minta yg terbaik pada Alloh SWT (sang khalik) karena segala sesuatu yang kita rencanakan semua keputusan ada ditangan-Nya. 🙂

Dengan kaitkata ,

waktu dan perubahan

waktu itu seperti pisau

Benar banget kata hadist yang bilang kalo waktu itu seperti hal nya pedang. Bisa di bayangkan bagaimana pedang atau pisau yang kita pakai tanpa permisi dan bilang2 bisa aja langsung melukai kita dalam waktu tidak kurang dari 1 detik. Tiba-tiba saja akan keluar darah dari kulit kita yang kena pisau tadi. Sama hal nya seperti waktu, gak terasa sekarang semua udah banyak banget yang berubah. Dari dulu tiap jalan masih di sangka anak sekolahan, masih di panggil “de.. sekolah SMP nya dmn de? “, eh tau2 sekarang tiap ketemu orang di panggilnya udah pake “Ibu”. Hadeh, berasa yah udah makin senior aja umurnya. Nikah aja belom, udah dipanggil ibu terus.

Sekitar 3 hari lalu saya bertemu dengan teman2 SMP saya. Saling tukar cerita, pengalaman hidup, dan yang pasti statusnya udah banyak banget yang berubah. Ada yang lagi berbadan 2, ada lagi seru2nya ngurusin anak yang baru beranjak jalan, ada juga yang lagi nungguin big day, dan pastinya ada jg yang jomblo nungguin jodoh yang lagi dirahasiain sama Alloh. Gak berasa, udah banyak banget temen2 saya yang menikah, bahkan ada jg yang anaknya sudah 2. Ternyata temen2 yang cowo juga udah banyak yang nikah juga. Kalo setiap kali ditanya ” gimana rasanya menikah? “, banyak banget dari mereka yang jawab. ” gw nyesel nis nikah, nyesel kenapa gak dari dulu aja “. eaaa…. Hampir dari teman2 saya yang sudah menikah bilang hari-hari mereka lebih lengkap dari biasanya. Lebih indah dan lebih fokus.

Kalo dilihat dari segi umur, umur sekitar 25 ke atas memang sudah ideal untuk berumah tangga. Makannya wajar banget, kalo liat teman2 saya yang lain saat ini sudah dipanggil ayah dan bunda. Kalo dibilang nikah usia muda, yah memang benar. Tapi tidak ada yang salah kalo umur 25 sudah menikah, dan tidak juga menyalahi keputusan pemerintah yang mengharuskan menikah diusia ideal.

Hmm, jadi ingin cepet nyusul #eaa curcol dikit 😛

Ketika Cinta Ber-Tajwid

“Cinta…

adalah ketika kamu menitikkan air mata dan masih peduli terhadapnya…

adalah ketika dia tidak memperdulikanmu dan kamu masih menunggunya dengan setia..” KAHLIL GIBRAN

 

Saat pertama kali berjumpa denganmu, aku bagaikan berjumpa dengan saktah. hanya bisa terpana dengan menahan nafas sebentar.

Aku di matamu mungkin bagaikan nun mati di antara idgham billagunnah, terlihat tapi dianggap tak ada.

 Aku ungkapkan maksud dan tujuan perasaanku seperti Idzhar, jelas dan terang.

 Jika mim mati bertemu ba disebut ikhfa syafawi, maka jika aku bertemu dirimu, itu disebut cinta.

 Sejenak pandangan kita bertemu, lalu tiba – tiba semua itu seperti Idgham mutamaatsilain, melebur jadi satu.

 Cintaku padamu seperti Mad Wajib Muttasil, paling panjang di antara yang lainnya.

 Setelah kau terima cintaku nanti, hatiku rasanya seperti Qalqalah kubro, terpantul- pantul dengan keras.

 Dan akhirnya setelah lama kita bersama, cinta kita seperti Iqlab, ditandai dengan dua hati yang menyatu.

 Sayangku padamu seperti mad thobi’i dalam Quran. Buanyaaakkk beneerrrrr 😀

 Semoga dalam hubungan kita ini kayak idgham bilagunnah, cuma berdua, lam dan ro’.

 Layaknya waqaf mu’annaqah, engkau hanya boleh berhenti di salah satunya. DIA atau aku?

 Meski perhatianku tak terlihat seperti alif lam syamsiah, cintaku padamu seperti alif lam Qomariah, terbaca jelas.

 Kau dan aku seperti Idghom Mutaqorribain, perjumpaan 2 huruf yang sama makhrajnya tapi berlainan sifatnya.

 Aku harap cinta kita seperti waqaf lazim, berhenti sempurna di akhir hayat.

 Sama halnya dengan Mad ‘aridh dimana tiap mad bertemu lin sukun aridh akan berhenti, seperti itulah pandanganku ketika melihatmu.

 Layaknya huruf Tafkhim, namamu pun bercetak tebal di pikiranku.

 Seperti Hukum Imalah yang dikhususkan untuk Ro’ saja, begitu juga aku yang hanya untukmu.

 Semoga aku jadi yang terakhir untuk kamu seperti mad aridlisukun 😀

 Sumber: @Jaldee x)

Late Posting, Mba Nci Wedding

GambarMe and The bride prewedding

Postingan tulisan ini sebenarnya sudah sangat amat telat.Ini pernikahan kakaknya kakak ipar saya yaitu Mba Lusiyana atau di kenal dengan Mba nci. Kenapa akhirnya saya review? karena saya adalah fotografer yang ikut berkutat didalamnya hehehe. Terutama dalam preweddingnya.

Tema pernikahannya bernuansa blue light, dan sangat family time banget. Tidak terlalu crowded tapi bisa mengenyangkan setiap tamu karena makanannya melimpah hehe. Semua keluarga terlihat cantik atas polesan “Reksi Salon” yg adorable banget make up nya. Terlebih pengantinnya yang terlihat ayu kemayu.

Gambar

Me and parents

Oia untuk dress saya dan mamah gunakan dalam acara mba nci ini saya design sendiri loh. Untuk urusan bahan saya serahkan pada mamah, dan jahit tentunya kepada penjahit donk hehe.

Gambar

The Brides

Selamat ya mba nci, dan sekarang pernikahannya sudah berjalan 6 bulan. Alhamdulillah. Dan sudah hamil 4 bulan. Semoga sehat terus dan langgeng sampai ajal memisahkan. aaamiiin. Dan saya bisa segera menyusul mba nci juga hehe.aamiin

Seenggok Bagian Karya Yang Saya Miliki

  • Ingin berbagi sebagian dari karya saya, yang rasanya masih layak untuk dinikmati.Meskipun terlalu banyak kekurangan dan tambalan disana-sini, tapi sampai detik ini saya masih terus mencoba untuk menjadi designer yang solehan dengan karya-karya saya dan terus belajar dari dunia sekitar saya agar design saya bisa terus menjadi lebih baik. Silahkan cek tautan berikut untuk melihat karya2 saya.
  • oirun portfolio

    ,
    Sekiranya tertarik untuk memakain jasa design dari saya bisa menguhubungi saya langsung melalui email ” sitikhoirunnisa10@yahoo.com”.

  • ” Seni itu indah, dan Alloh SWT menyukai keindahan”

    (Book Review) 99 Cahaya di Langit Eropa

    Gambar

    Sejujurnya buku ini membuat saya bingung bagaimana meriviewnya, bukan karena kehabisan kata-kata. Melainkan karena semua cerita dalam buku ini memang harus dibaca sendiri saking bagusnya buku ini. Buku ini menginspirasi saya untuk berkeliling dunia, mencari kebesaran islam dan menambah keyakinan saya. Dan saya makin jatuh cinta pada agama ini “ISLAM” dan semakin ingin menjadikan diri saya sebagai agen muslim yang baik.

    Yap… Agen muslim yang baik seperti yang diceritakan Hanum pada bukunya tentang sahabatnya Fatma yang memiliki misi sebagai agen muslim yang baik. ” Dengan menebar seyum indah, selalu jujur, dan menguasai setiap bahasa (ilmu pengetahuana)”. Misinya ini sudah saya edit sedikit tapi maknanya tetap sama :D.

    Semua bermula dari Wina – Austria. Tempat dimana Hanum sang penulis mengawali perjalanannya mengelilingi dunia. Dan menemukan sahabat sesama muslim ‘ Fatma’ yang akhirnya lewatnyalah seakan Hanum mendapatkan ‘hidayah’ kembali dan memutuskan berkeliling Eropa dan menguak kebesaran Islam yang tersebar disana hingga akhirnya memilih memakai hijab :). Sebuah persahabatan yang sangat menyentuh walau berbeda negara dan budaya, tapi seakan Hanum dan Fatma sudah ditakdirkan bersama sejak mereka dilahirkan.

    Der Wienner Deewan sebuah tempat makan restoran ala Pakistan yang berada di Wina ini memiliki konsep yang mendobrak hukum ekonomi. Direstoran ini kita bisa makan sepuasnya dan membayar seikhlasnya, Hanum dalam bukunya menceritakan bahwa pemilik restoran ini percaya dan yakin bahwa setiap manusia memiliki sikap dermawan dalam dirinya. Dan restoran ini berlabel ‘HALAL”. Jangan mengira kalau restoran ini hanya menyediakan menu vegetarian, tapi kebalikannya menu daging dengan bumbu berempah seakan melimpah dengan potongan besar disajikan dalam sajian prasmanan. Dan sekali lagi pemilik ini tidak pernah takut ‘rugi’. Mungkin pula sang pemilik merupakan muslim yang taat dengan mempercayai sebuah hadist “apa bila kamu memberi satu buah, maka Alloh SWT akan membalasmu dengan lima buah”. Dan hal itu terbukti dengan masih berdirinya restoran yang berdiri sejak 2003 hingga saat ini.

    Paris. Sebuah negara yang melambang negara teromantis didunia ini, ternyata memiliki segudang rahasia keagungan Islam didalamnya. Eiffel sebagai simbol paris seakan menjadi tidak menarik untuk disorot pada buku ini.Seorang Napoleon Bonaparte kaisar Perancis yang selalu bertindak cerdas dalam setiap peperangan demi memperluas daerah jajahannya, siapa sangka ternyata seorang muslim?. Dan siapa sangka gerbang kebesaran kota paris atau ” Quadriga Arc de Triomphe du Carrousel” berlatar belakang horizon garis lurus Axe Historique yang membelah kota Paris dibuat imajiner searah kiblat oleh Napoleon Bonaparte sepulangnya dari ekspedisi Mesir.

    Paris juga menyimpan misteri kebesaran Islam pada museum Louvre. Koleksi lukisan Bunda Maria yang menggendong yesus seakan membuat kita berbangga dan mengerutkan kening ketika Hanum menguraikan dalam bukunya,bahwa hijab yang dikenakan Bunda Maria dipenuhi oleh kufic arab berlafadz ” Lailahaillallah”.

    Begitu menarik buku ini untuk dibaca oleh teman-teman semua, dan temukan 99 cahaya itu dalam buku yang ditulis oleh Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra.