Lompat ke isi
April 27, 2010

A SMILE OF LOVE

When the sun goes down, I walk through the night to see the moon
Even I feel such cold
Even it can freeze my soul…..
Because my love will never end…for You
Because my smile will always light upon the darkness
My words will yield everlasting
Because I know….You Take my hands in my happiness
You Make me happy in my sadness
And You’re There in my loneliness
Because I know…..Your Love is beyond mine
And I know You are The Only One in my heart ……forever…

Januari 13, 2010

Dakwah sang pengamen

Malam itu (10/01/2010, pukul 19.10 WIB), jalanan arah Jakarta – Depok lenggang. Tidak macet seperti biasanya. Hampir satu jam saya menunggu bus jurusan Jakarta-Depok di halte depan gedung BCA-slipijaya , dan akhirnya bus 54 pun lewat. Tanpa basa-basi langsung saya naiki kendaraan yang sudah dari tadi saya tunggu-tunggu. Mengambil posisi duduk di bangku paling depan, dekat dengan tempat berdirinya pak kondektur.

Rasanya hari itu amat lelah setelah satu hari beraktifitas bersama kawan seperjuangan. Merumuskan sebuah kebijakan, merangkai strategi, dan membentuk kembali struktur sebuah barisan dakwah.

Kata-kata “dakwah” terus terngiang diotak saya. Terus bertanya dalam hati,
” apakah saya pantas berada dalam barisan ini?”, karena sementara dari hari ke hari saya belum bisa menjadi seseorang yang lebih baik. Dan “apakah saya mampu berada didalamnya?, apakah saya siap mengahadapi segala bentuk cobaan yang akan menerjang nanti?”, dan sanggupkah saya memegang amanah ini?”. Pertanyaan-pertanyaan itu terus memutari pikiran saya selama di perjalanan menuju depok.

Tapi tiba-tiba dari arah belakang, ada seseorang yang mengucapkan salam dengan fasih, penuh keyakinan, hormat dan semangat. Suaranya tidak begitu berat, tapi terdengar pasti dan yakin. Saya memang tidak bisa melihat wajahnya karena dia berdiri ditengah bus tersebut. Sebut saja dia seorang seniman jalanan, atau pengamen jalanan, atau mungkin pendakwah berjalan. Siapapun dia, dialah yang menyadarkan saya dari pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Awalnya memang dia cuma memberikan sebuah monolog tentang “ngiler”. Tapi ketika ingin memulai shownya, si pemuda itu mengucapkan “bismillah”, terdengar jelas dan yakin. Saya memang tidak terlalu fokus ketika dia menampilan karya monolog “ngiler” yang dia bawakan. Namun, kemudian dia melanjutkan sebuah rangkaian kata mengenai sedekah, dan tetap di awali dengan “bismillah”. Dia menyampaikan pembicaraanya mengenai sedekah dengan penuh semangat, tetap santun, dan berdasar pada Al-quran. Saya mendengarkan dengan seksama, dan seketika itu otak saya berfikir. Seorang pengamen yang biasa hidup di jalanan entah apapun niatnya, mereka mau berdakwah. Walau mungkin ada selembar, dua lembar, atau sekoin, dua koin yang dia harapkan didapatinya.

Terlepas dari semua hal itu, saya tersadar. Kalau seorang pengamen saja tanpa rasa malu, dengan mental yang kuat, dengan ilmu yang seadanya dan dengan keyakinannya kepada Allah SWT bisa melakukan sebuah dakwah seperti tadi. Kenapa saya yang telah mengalami pendidikan agama bertahun-tahun, mengenal Islam bertahun-tahun, dan telah yakin kepada Allah SWT dengan sepenuh hati saya, harus ragu untuk berdakwah?
Karena Allah juga telah mengingatkan dalam ayat cintanya “an- Nahl [16] “:

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”

Dan sesungguhnya bagi orang-orang yang berdakwah, sesungguhnya Allah telah berjanji bahwa mereka merupakan orang-orang yang beruntung.

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran [3] : 104)

Semoga Allah SWT meridhoi saya dan kita semua yang berdakwah untuk agama Allah agar selalu istikomah dalam jalan ini. amiiin

Oktober 9, 2009

Tafakur

Sejauh-jauh mata memandang
Sedalam-dalam hati merasakan
Hanya setitik debu yang tertuang
Dalam syair pujian

Lepas hati memandang lautmu
Terheran diri pada langitmu
Berjuta kata tak cukup untuk
Melukis indahmu
Melihat bintang alangkah jauhnya
Melihat biru alangkah dekatmu
Melihat hutan melihat gunung
Siapa menjagamu
Mendengar tangis dalam deritamu
Rasakan luka dihari-harimu
Pada siapa air mata ini ‘kan mengadu

Bumi akan sepi
Bangga sementara
Adakah tempat kembali
Adakah selain Allah

* Karena manusia hanya makhluk Allah yang begitu kecil, maka tiada guna kita saling menyombongkan diri didunia ini.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.